Dirgahayu RI ke 75 : Kehambaan dalam Kemerdekaan.

Kehambaan dalam Kemerdekaan.

®®®®®
Kesetiaan terhadap sesuatu terkadang perlu dibuktikan melalui simbol. Meski simbol seringkali menipu dan mengelabuhi. Persis seperti anak manusia yang selalu menciptakan simbol dan mengaku sebagai hamba Allah, tapi justru disaat yang sama selalu mengeluh, protes dan melawan takdir keputusan-Nya.
*
Dalam sejarah kemanusiaan, Nabi Muhammad adalah dari sedikit manusia yang telah mendapat notifikasi dari Allah, bahwa penghambaannya telah diterima. Salah satunya adalah firman-Nya mengenai Isra' Mi'raj;


سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آَيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-Isra‘: 1)
*
Tidak tanggung-tanggung, ia disebut dengan ungkapan 'Abdun' (hamba sahaya). Sebuah predikat yang langsung diberikan oleh Allah. Ayat ini seolah menampar kita, bahwa slogan kemerdekaan yang sering kita gaungkan tidak akan membawa kita menjadi manusia yang benar-benar MERDEKA, selama kita tidak mengandapasorkan diri (Ubudiyah) di hadapan Allah. 
*
Tulus Mengabdi, Suci Berniat dan Ikhlas Beramal. Saat kita dapat melakukan itu, saat itulah kita sedang menikmati KEMERDEKAAN sesungguhnya. Tidak takut dengan siapapun kecuali pada-Nya.
*
Dirgahayu RI ke 75.
Merdeka Jiwanya.
Bertakwa Rakyatnya.

Facebook Comments

0 Komentar

TULIS KOMENTAR

Alamat email anda aman dan tidak akan dipublikasikan.