KHUTBAH JUMAT: Keberkahan Hidup

Keterangan Gambar : Pixabay


Oleh: Dr. Muhammad Choirin


إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أجمعين وسَلّمْ تَسليمًا كَثِيرًا. أَمَّا بَعْدُ...
فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِىْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

 

Ma’ashiral Muslimun Rahimakumullah

 

Terwujudnya kehidupan keluarga, masyarakat dan bangsa yang bahagia dan sejahtera merupakan dambaan semua orang. Untuk mencapainya, diperlukan usaha yang sungguh-sungguh dari semua pihak. Allah SWT memberikan rumus qur’ani yang sudah terbukti sukses dalam membangun masyarakat yang bahagia dan sejahtera seperti yang disebutkan dalam surah al-Muddathir (74): 1-7:

 

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلۡمُدَّثِّرُ (١) قُمۡ فَأَنذِرۡ (٢) وَرَبَّكَ فَكَبِّرۡ (٣) وَثِيَابَكَ فَطَهِّرۡ (٤) وَٱلرُّجۡزَ فَٱهۡجُرۡ (٥) وَلَا تَمۡنُن تَسۡتَكۡثِرُ (٦) وَلِرَبِّكَ فَٱصۡبِرۡ (٧)  

Artinya:  (1). Hai orang yang berkemul (berselimut). (2). Bangunlah, lalu berilah peringatan!. (3).  Dan Tuhanmu agungkanlah!. (4).  Dan pakaianmu bersihkanlah. (5).  Dan perbuatan dosa tinggalkanlah. (6).  Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. (7).  Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.

 

Berdasarkan ayat di atas, terdapat syarat-syarat yang harus dipenuhi agar kita dapat mewujudkan keberkahan dalam hidup, yaitu:

 

Pertama: Mengagungkan Allah SWT.

 

Perintah pertama yang harus dijalankan oleh Rasulullah SAW setelah medapatkan wahyu adalah mengagungkan Allah SWT. Mengagungkan Allah SWT adalah syarat utama dan pertama yang harus dilakukan agar masyarakat memperoleh kesentosaan dan kesejahteraan. Bagi orang beriman, mentauhidkan dan mengagungkan Allah SWT adalah sumber kehidupan dan kebahagiaan. Allah SWT memiliki sifat keagungan dan kesempurnaan yang tidak dimiliki oleh siapapun di dunia.  Oleh karena itu hanya Allah SWT sajalah yang layak dan berhak untuk diagungkan.

 

Sebaliknya jika masyarakat menjauh dari Allah SWT dan mengagungkan hal-hal lain seperti mengagungkan jabatan, harta dan kemewahan, maka Allah SWT akan merendahkan dan menghinakan mereka. Marilah sama-sama kita lihat bagaimana keadaan masyarakat modern yang memprioritaskan materi dan kedudukan, seperti mayoritas masyarakat Eropa, Amerika, Jepang dan lain. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadith Qudsi:

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَة قَال: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَال الله عَزَّ وَجَلّ: الكِبْرِيَاءُ رِدَائِي، وَالعَظَمَةُ إِزَارِي، فَمَنَ نَازَعَنِي وَاحَداً مِنْهُمَا قَذَفْتُهُ فِي النَّار. الحديث أصله في صحيح مسلم وأخرجه الإمام أحمد وأبو داود وابن ماجة وابن حبان في صحيحه.
    Artinya: Allah berfirman (dalam hadith Qudsi): Kesombongan adalah selendangku dan keagungan adalah pakaianku, maka barangsiapa mengambilnya dariku, aku akan mencampakkannya kedalam neraka. (H.R. Imam Ahmad, Abu Dawud, Ibn Majah dan Ibn Hibban).

 

Oleh karena itu, Allah SWT menjadikan lafaz “Allahu Akbar” sebagai ucapan yang sering digunakan dalam pergantian gerakan solat lima waktu. Bahkan Justru itulah Allah SWT mengkhabarkan dan memerintahkan kepada kita bahawa ketenangan hidup itu hanya dapat diraih dengan memperbanyak zikir kepad-Nya. Firman Allah SWT dalam surah al-Ra’d (13): 27-28:

 

وَيَقُولُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَوۡلَآ أُنزِلَ عَلَيۡهِ ءَايَةٌ۬ مِّن رَّبِّهِۦ‌ۗ قُلۡ إِنَّ ٱللَّهَ يُضِلُّ مَن يَشَآءُ وَيَہۡدِىٓ إِلَيۡهِ مَنۡ أَنَابَ (٢٧) ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطۡمَٮِٕنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِ‌ۗ أَلَا بِذِڪۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَٮِٕنُّ ٱلۡقُلُوبُ (٢٨) 
Artinya: (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

 

Ma’ashiral Muslimun Rahimakumullah

 

Kedua: Membersihkan Pakaian.

 

Masyarakat yang mulia adalah masyarakat yang memperhatikan kebersihan pakaian yang dipakaiannya. Kebersihan pakaian ini menyangkut kesucian dari najis secara zahir dan kebersihan dari bercampurnya harta. Hal ini karena pakaian yang tercampur dengan najis dapat menyebabkan amalan yang kita lakukan, seperti solat, haji dan amalan ta’abbud yang lain. Adapun harta kita yang tidak bersih yang disebabkan oleh tercampurnya harta orang lain, atau yang didapat dengan menipu, mengambil hak orang lain ataupun harta yang tidak dikeluarkan zakatnya dapat menyebabkan hilangnya berkah dalam harta tersebut.  Rasulullah SAW pernah bersabda:

    كُلُّ لَحْمٍ نَبَتَ مِنْ حَرَامٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ. رواه أحمد.
Artinya: Setiap daging yang tuumbuh dari (harta) yang haram, maka neraka lebih layak baginya. (H.R. Imam Ahmad).


Allah SWT secara tegas menyuruh kita untuk memakan barang yang halal dalam firman-Nya surah al-Baqarah (2): 172:

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.

 

Selain kebersihan dan kesucian zahir, kebersihan pakaian ini mencakup kebersihan batin dan hati. Demikian kata para pakar tafsir seperti: Qatadah, Tawus, Mujahid, al-Thawri dan lain-lain.Kebersihan hati dari maksiat dan penyakit-penyakit hati dapat menjadikan hidup seseorang menjadi damai, bahagia dan sentosa. Adapun kemaksiatan, dosa serta kemunkaran dapat menjadikan kehidupan menjadi gelap, gelisah dan kesengsaraan yang berkepanjangan.

 

Ma’ashiral Muslimun Rahimakumullah

 

Ketiga: Meninggalkan Perbuatan Dosa.

 

Dosa yang dimaksud dalam ayat di atas adalah berhala dan patung-patung yang pada ketika itu menjadi sesembahan orang-orang Quraish. Di awal memulakan dakwah, Nabi Muhammad SAW diperintahkan oleh Allah SWT untuk menjauhi patung. Pada ketika ketika itu, patung dan berhala menjadi sesuatu yang sangat diagungkan oleh masyarakat Quraish. Dalam konteks kehidupan masyarakat modern, patung dan berhala-berhala tersebut dapat berbentuk jabatan, harta dan kekayaan. Sebab bisa jadi dunia dan kesenangannya serta hawa nafsu dan keindahannya akan menjadi Tuhan bagi sebagian orang. Allah SWT berfirman:

Artinya: Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah Telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?

 

Dosa adalah sumber kegelisahan dan kerugian, bahkan ia merupakan sebab terbesar kehancuran sebuah bangsa. Dalam konteks individu, orang yang sering berbuat dosa akan merasakan kesempitan hidup, kegelisahan dan kemurungan. Hal ini karena sifat fitrah manusia menyukai kepada kebaikan dan menolak kemaksiatan. Keluarga yang dibangun atas dasar dosa, kemaksiatan dan dosa akan menjadi keluarga yang tidak tenteram, terlibat pertengkaran dan selalu dihantui dengan keretakan. 

 

Ma’ashiral Muslimun Rahimakumullah

 

Keempat: Ikhlas Dalam Berbuat

 

Keikhlasan adalah syarat utama diterimanya amal. Allah SWT menjadikan ikhlas sebagai pondasi utama dalam mewujudkan masyarakat yang bahagia dan sejahtera. Keikhlasan akan melahirkan rasa empati, simpati dan saling menghargai dalam masyarakat. Sedangkan tamak dan pamrih akan melahirkan sifat merendahkan dan menghinakan orang lain. Memberi dengan berharap mendapat sesuatu yang lebih akan membawa masyarakat dalam lorong kemunafikan dan topeng yang membahayakan. Justru nilai tertinggi yang hendak diajarkan dari syariat puasa adalah sifat ikhlas dan menghargai orang lain.

 

Dalam ayat ini Allah SWT memberi peringatan kepada nabi Muhammad SAW supaya melakukan usaha dakwah bukan untuk tujuan dunia dan seumpamanya. menghendaki agar kita sebagai ummat Baginda SAW menjadi peribadi yang dermawan, suka berinfaq dan memperhatikan golongan yang lemah dan miskin. Sebuah masyarakat yang damai, sejahtera dan sentosa akan terwujud apabila yang kaya memperhatikan yang miskin, yang kuat menghargai yang lemah dan pandai mengasihi yang jahil. Imam Ali bin Abi Talib pernah memberi nasehat kepada Abdul bin Jabil al-Ansari dengan ungkapan beliau yang terkenal:

قَوَامُ الدُّنْيَا أَرْبَعَةُ أَشْيَاءِ: عِلْمُ العُلَمَاءِ، سَخَاءُ الأَغْنِيَاءِ، دُعَاءُ الفُقَرَاءَ وَعَدْلُ الأُمَرَاءِ.
Artinya: Pilar dunia itu ada empat hal: ilmunya para ulama, kedermawanan orang kaya, doanya orang miksin dan keadilan pemimpin.


Ma’ashiral Muslimun Rahimakumullah


Kelima: Sabar

 

Dalam al-Qur'an banyak sekali ayat-ayat yang berbicara mengenai kesabaran. Jika ditelusuri secara keseluruhan, terdapat 103 kali disebut dalam al-Qur'an, kata-kata yang menggunakan kata dasar sabar; baik berbentuk isim maupun fi'ilnya. Hal ini menunjukkan betapa kesabaran menjadi perhatian Allah SWT, yang Allah tekankan kepada hamba-hamba-Nya. Sabar adalah menahan diri dari sifat kegeundahan dan rasa emosi, kemudian menahan lisan dari keluh kesah serta menahan anggota tubuh dari perbuatan yang tidak terarah.

 

Amru bin Usman mengatakan, bahwa sabar adalah keteguhan bersama Allah, menerima ujian dari-Nya dengan lapang dan tenang. Hal senada juga dikemukakan oleh Imam al-Khowas, bahwa sabar adalah refleksi keteguhan untuk merealisasikan al-Qur'an dan sunnah. Sehingga sesungguhnya sabar tidak identik dengan kepasrahan dan ketidak mampuan. Justru orang yang seperti ini memiliki indikasi adanya ketidak sabaran untuk merubah kondisi yang ada, ketidak sabaran untuk berusaha, ketidak sabaran untuk berjuang dan lain sebagainya.

Selain solat, sabar adalah salah satu solusi dari setiap permasalahan, sebagaimana firman Allah SWT dalam surah al-Baqarah (2): 45:
 
Artinya: Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu',


أقولُ قولي هذا، وأستغفِرُ اللهَ لي ولكم من كلَّ ذنبٍ، فاستغفِروه؛ إنه هو الغفورُ الرحيم.

 

===

 

Khutbah Ke-2


اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.


 

Facebook Comments

0 Komentar

TULIS KOMENTAR

Alamat email anda aman dan tidak akan dipublikasikan.