KHUTBAH JUMAT: Membangun Ukhuwah Iqtishadiyah

Keterangan Gambar : Pixabay


Oleh: Dr. Mochammad Arif Budiman

 

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ .

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

فَيَا مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ الله، أُوصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَا اللهَ فَقْدْ فَازَ الْـمُتَّقُوْنَ

 

Pada hari Jumat yang penuh berkah ini izinkanlah khatib mewasiatkan kepada jamaah sekalian dan juga kepada diri khatib sendiri agar senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya agar kita mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Aamiin Ya Rabbal’alamin.

 

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

 

Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk memelihara persatuan dan persaudaraan di bawah panji Islam dan menjauhi segala bentuk perselisihan. Dalam Al-Quran, Allah berfirman:

 

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

 

Artinya: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (pada masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu karena nikmat Allah, menjadilah kamu orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk” (QS Ali Imrân: 103).

 

Hakikat persaudaraan di kalangan umat beriman (ukhuwah) ini secara eksplisit telah ditegaskan Allah:

 

إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةٌ۬ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَ أَخَوَيۡكُمۡ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ

 

Artinya: “Orang-orang beriman itu bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat” (QS Al-Hujurat: 10).

 

Imam Al-Qurtubi dalam kitab tafsirnya menyebutkan, persaudaraan antara orang beriman itu disebabkan oleh agamanya, bukan karena keturunan atau nasabnya. Persaudaraan karena agama jauh lebih kokoh daripada persaudaraan karena keturunan. Persudaraan karena agama tidak akan terputus karena perbedaan keturunan, namun sebaliknya persudaraan karena keturunan dapat terputus karena perbedaan agama.

 

Rasulullah SAW juga menekankan pentingnya ukhuwah Islamiyah ini dalam banyak hadis beliau, di antaranya:

 

اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

 

Artinya: “Seorang mukmin bagi mukmin lainnya laksana bangunan, satu sama lain saling menguatkan (HR Muttafaq ‘Alaih).

 

Ma’asyiral muslimin wa zumratal mu’minin rahimakumullah,

 

Ukhuwah Ekonomi

 

Salah satu bidang kehidupan manusia yang terpenting adalah ekonomi. Ekonomi mengatur kegiatan manusia yang berhubungan dengan produksi, distribusi, dan konsumsi barang dan jasa yang dibutuhkan dalam hidup. Di antara ciri perekonomian yang tangguh adalah adanya kemampuan pada suatu bangsa untuk memenuhi sendiri segala kebutuhannya, terutama kebutuhan pokok seperti pangan, sandang, dan papan, tanpa tergantung pada bangsa-bangsa lain. Dengan kemandirian dan ketahanan ekonomi tersebut, maka suatu bangsa akan tampil menjadi kuat dan disegani oleh bangsa-bangsa yang lain, serta dapat bersikap independen dalam setiap kebijakan yang diambilnya.

 

Kemandirian dan ketahanan ekonomi ini tentunya juga sangat penting dimiliki oleh umat Islam, khususnya umat Islam di Indonesia yang jumlahnya lebih dari 87 persen dari total populasinya. Pertanyaan yang penting diajukan dalam konteks ini adalah: Bagaimanakah sesungguhnya kekuatan ekonomi umat Islam di tanah air dan sejauhmanakah tingkat kemandirian ekonominya saat ini?

 

Untuk menjawab pertanyaan di atas bukanlah hal yang mudah karena belum ada instrumen yang secara khusus mengukur tingkat kekuatan dan kemandirian ekonomi di antara umat beragama. Namun dari beberapa indikator di bawah ini setidaknya dapat diambil kesimpulan awal tentang tingkat kemandirian ekonomi umat Islam dibandingkan dengan umat-umat agama lain.

 

Pertama, distribusi kekayaan. Tingkat ketimpangan di Indonesia tercatat sangat buruk dan menempati peringkat keenam dalam daftar negara dengan ketimpangan distribusi kekayaan terburuk di dunia. Data Global Wealth Report 2018 menyebutkan bahwa 1 persen penduduk menguasai 47 persen dari total kekayaan Indonesia. Dari data tersebut juga terkuak fakta bahwa harta milik empat orang terkaya di Indonesia sama dengan gabungan kekayaan 100 juta penduduk.

 

Kedua, daftar orang terkaya. Merujuk pada daftar orang terkaya di Indonesia yang dikeluarkan oleh majalah Forbes, maka kita saksikan bahwa daftar tersebut ternyata didominasi oleh sekelompok etnis tertentu, bukan oleh umat Islam. Orang-orang kaya tersebut tercatat memiliki jaringan bisnis konglomerasi yang tersebar luas dan menguasai berbagai sektor ekonomi dan bisnis di negeri ini.

 

Ketiga, pangsa pasar keuangan syariah. Data per April 2020 menunjukkan pangsa pasar atau market share dari keuangan syariah terdadap sistem keuangan di Indonesia baru mencapai 9,03 persen, sedangkan pangsa pasar perbankan syariah lebih rendah lagi, yakni sebesar 6,07 persen. Artinya, sistem keuangan di negara kita masih dikuasai oleh sistem ekonomi konvensional berbasis riba.

 

Dari ketiga indikator di atas tampak jelas bahwa kekuatan dan kemandirian umat Islam yang merupakan penduduk mayoritas di negeri ini ternyata jauh tertinggal dibandingkan dengan umat-umat lain. Hal ini harus menjadi keprihatinan dan perhatian dari segenap umat Islam di tanah air. Oleh karena itu, umat Islam dituntut berikhtiar secara sungguh-sungguh agar dapat meningkatkan kekuatan dan kemandirian ekonominya. Dan ikhtiar tersebut harus dilandasi dengan pengokohan ukhuwah ekonomi umat. Tanpa adanya ukhuwah Islamiyah, maka perkonomian umat yang kuat dan mandiri tidak akan pernah terwujud.

 

Jamaah Jumat, kaum muslimin yang berbahagia

 

Untuk membangkitkan kekuatan ekonomi umat Islam tidak ada kata lain kecuali umat Islam harus bersatu dan menggalang kekuatannya secara berjamaah. Berjamaah adalah kunci sukses membangun kekuatan ekonomi umat. Tidak akan maju umat ini jika masih berkutat dalam perselisihan, merasa benar sendiri dan mudah menyalahkan orang lain. Selanjutnya, ada sejumlah langkah penting yang harus dilakukan umat Islam untuk menguatkan kemandirian ekonominya:

 

Pertama, meningkatkan ketaqwaan kepada Allah

Al-Qur’an menegaskan bahwa, kejayaan dan kehancuran suatu bangsa atau peradaban ternyata sangat dipengaruhi oleh keteguhan dan komitmen mereka dalam memegang ajaran agama dan moralitas. Sepanjang nilai-nilai agama dan moralitas dijadikan pedoman dan diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, maka kejayaan pasti dilimpahkan oleh Allah. Demikian pula sebaliknya, tatkala nilai-nilai agama dan moral sudah tidak dihiraukan lagi, maka kehancuran pasti akan terjadi. Hal ini ditunjukkan secara lugas dalam Al-Qur’an:

 

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا

 فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُون

 

Artinya: Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan (QS Al-A’raf: 96).

 

Kedua, bersikap profesional dalam pekerjaan

Umat Islam dituntut terus meningkatkan profesionalismenya dalam segala hal sebagaimana hadis Rasulullah SAW:

إن الله يحب إذا عمل أحدكم عملا أن يتقنه

 

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyukai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu amal secara itqan” (HR. Tabrani).

Itqan adalah berupaya untuk melakukan amal dengan cara yang terbaik, fokus dan tuntas, yaitu dengan mengerahkan segala kemampuan (totalitas) dalam melakukan pekerjaannya, termasuk memastikan rezekinya berasal dari sumber-sumber yang halal.

Ketiga, mengutamakan produk-produk yang dihasilkan umat Islam

Umat Islam seyogyanya mengutamakan produk-produk yang dihasilkan oleh sesama umat Islam dan hanya berbelanja di jaringan toko dan pedagang muslim. Hal  ini agar harta dan sumber daya ekonomi yang dimiliki umat Islam tidak mengalir begitu saja ke tangan orang-orang non-muslim. Dalam hal ini, kita tidak berarti anti dengan umat atau etnis lain, karena yang kita inginkan hanyalah berupaya mengembalikan kedaulatan ekonomi ke tangan kita sendiri sebagai umat terbesar di negeri ini. Kita ingin agar ketimpangan distribusi kekayaan yang parah di negeri ini dapat diperbaiki.

Keempat, menjauhi hal yang makruh dan haram

Umat Islam harus memastikan bahwa semua barang atau jasa yang dibelinya tidak termasuk dalam kategori makruh dan haram. Jangan sampai uang yang kita peroleh secara halal justru digunakan untuk hal-hal yang makruh dan haram, misalnya membeli rokok. Seandainya umat Islam meninggalkan rokok dan menggantinya dengan sedekah, maka betapa besar dana yang bisa terkumpul untuk kemaslahatan umat. Uang umat tidak mengalir ke kantong non-muslim tapi berputar di tengah-tengah umat sehingga dapat meningkatkan perekonomiannya.

Kelima, meningkatkan kepedulian terhadap kaum miskin dan lemah

Di sekitar kita masih banyak orang miskin dan lemah secara ekonomi yang perlu disantuni. Allah memerintahkan kita untuk menunjukkan kepedulian kepada mereka dengan membayar zakat dan mengeluarkan sedekah. Allah berfirman:  

وَآَتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ

 

Artinya: “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan” (QS Al-Isra: 26).

 

Jamaah jumat yang dirahmati Allah,

 

Demikianlah beberapa langkah penting yang perlu dilakukan umat Islam untuk membangun kemandirian ekonominya. Semoga Allah SWT memudahkan ikhtiar kita membangun perekonomian umat yang berkah, kuat dan mandiri sehingga dapat menghadirkan kesejahteraan dan kemakmuran bersama. Aamiin ya Rabbal’alamin.

 

بارك الله لي ولكم في القران الكريم ونفعني واياكم بما فيه من الايات والذكرالحكيم

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ ولسائرالمسلمين والمسلمات وَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Facebook Comments

0 Komentar

TULIS KOMENTAR

Alamat email anda aman dan tidak akan dipublikasikan.