[Seri Tadabbur] Surat An-Naba 17-30

Keterangan Gambar : Pixabay


Oleh : Dr. Atabik Luthfi Lc., MA.

 

 

إِنَّ یَوۡمَ ٱلۡفَصۡلِ كَانَ مِیقَـٰتࣰا ۝  یَوۡمَ یُنفَخُ فِی ٱلصُّورِ فَتَأۡتُونَ أَفۡوَاجࣰا

"Sungguh hari keputusan adalah suatu waktu yang telah ditetapkan, 
(yaitu) pada hari (ketika) sangkakala ditiup, lalu kamu datang berbondong-bondong". 
(An-Naba': 17-18)


Allah swt menegaskan di ayat ini, bahwa waktu kiamat sudah ditetapkan secara pasti, sebelum segalanya ada, di Lauh Mahfudz.  Kiamat dibahasakan di ayat ini dengan 'hari keputusan', karena fungsi kiamat diantaranya untuk memutuskan segala sesuatu, yang terjadi sepanjang kehidupan dunia. Kepastian waktu tersebut bertujuan, agar tidak diingkari atau diragukan oleh manusia.

 

Di antara peristiwa yang mengawali kiamat adalah ditiupnya sangkakala pertama, untuk menghancurkan dan membinasakan semua makhluk. Selanjutnya akan ditiup sangkakala kedua, untuk membangkitkan dan  menghidupkan kembali manusia, menunggu keputusan Allah swt. Menurut hadits Rasulullah saw, jarak waktu antara keduanya adalah 40 tahun:  “(Jarak) antara dua tiupan adalah empat puluh.” (HR. Bukhari). Barulah akhir dari prosesi akhirat adalah kekalnya kehidupan manusia, di surga atau di neraka, sepanjang masa selama-lamanya.

 

وَفُتِحَتِ ٱلسَّمَاۤءُ فَكَانَتۡ أَبۡوَ ٰ⁠بࣰا ۝  وَسُیِّرَتِ ٱلۡجِبَالُ فَكَانَتۡ سَرَابًا

"Dan langit pun dibuka, maka terdapatlah beberapa pintu, dan gunung-gunung pun dijalankan sehingga menjadi fatamorgana". (An-Naba': 19-20).


Ayat ini masih berbicara tentang beberapa peristiwa di saat terjadi kiamat, yang menjadi bukti dahsyatnya hari keputusan tersebut. Langit akan terbuka atau terbelah, sehingga nampak beberapa pintu, yang sangat menakjubkan, dan tidak pernah terjadi sebelumnya. Terdapat empat ayat lain, yang menggambarkan fenomena langit, saat terjadi kiamat; langit terbelah: (Al-Mursalat: 9, Al-Infithar: 1, Al-Insyiqaq: 1), dan langit dilenyapkan (At-Takwir: 11). 

 

Sedang gunung-gunung digambarkan berjalan dan berpindah dari tempatnya semula, sehingga tidak lagi menjadi pasak yang mengokohkan bumi. Di surat At- Takwir: 3 digambarkan bahwa di saat kiamat, gunung-gunung akan diperjalankan dari tempatnya. Bahkan akan dihancurkan menjadi debu (Al-Mursalat: 10). Keadaan tersebut menurut para ulama, semakin menambah kengerian dan kedahsyatan di hari keputusan, sehingga meningkatkan keimanan orang beriman akan hari kiamat.


إِنَّ جَهَنَّمَ كَانَتۡ مِرۡصَادࣰا ۝  لِّلطَّـٰغِینَ مَـَٔابࣰا

"Sungguh, (neraka) Jahanam itu (sebagai) tempat mengintai (bagi penjaga yang mengawasi isi neraka), 
menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas". (An-Naba': 21-22).

 

Ayat ini merupakan ayat pertama, yang mengawali pembahasan tentang kehidupan akhirat. Dimulai dengan gambaran neraka jahanam. Ditegaskan dengan huruf إن (Inna), bahwa neraka jahanam yang sudah tercipta, terus menerus mengintai manusia calon penghuninya. Imam As-Sa'di memahami maksudnya adalah neraka sudah dipersiapkan untuk calon penghuninya setiap saat, dari amal perbuatan. Yang diintai oleh neraka adalah mereka yang dikategorikan melampaui batas, dalam berbuat dosa dan kemaksiatan. Melampaui batas artinya berlebih-lebihan, terang-terangan, terus menerus tanpa segan silu, dan tidak mau bertaubat atas kesalahan.

 

Imam Hasan Al-Bashri menyimpulkan berdasarkan ayat ini, bahwa tidak ada yang masuk surga, melainkan akan melintasi neraka. Karena semua manusia pasti melakukan kesalahan. Rahmat Allah swt lah yang menentukan surga seseorang, sehingga ada yang masuk surga tanpa dihisab.


لَّـٰبِثِینَ فِیهَاۤ أَحۡقَابࣰا ۝  لَّا یَذُوقُونَ فِیهَا بَرۡدࣰا وَلَا شَرَابًا

"Mereka tinggal di dalamnya (neraka) dalam masa yang lama, mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman". (An-Naba': 23-24).

 

Suasana neraka dan penghuninya yang sangat berat dan menyengsarakan, digambarkan di ayat ini dengan jelas. Masa tinggal di dalamnya tidak terbatas, tidak akan pernah merasakan kenyamanan dan kesejukan, serta tidak pula akan mendapat minuman untuk menghilangkan dahaga.  Waktu yang tidak berujung dan keadaan yang berat, menjadi balasan yang setimpal, atas kedurhakaan sepanjang hidup di dunia. Gambaran neraka yang kongkrit sengaja disebutkan oleh Al-Qur'an, untuk menjadi peringatan agar berhati-hati dalam menjalankan kehidupan. Kehidupan dunia yang singkat, tentu tidak sebanding dengan kehidupan akhirat yang sangat panjang. Berbekallah....!!!

 

إِلَّا حَمِیمࣰا وَغَسَّاقࣰا ۝  جَزَاۤءࣰ وِفَاقًا

"Selain air yang mendidih dan nanah, 
sebagai pembalasan yang setimpal". ( An-Naba': 25-26).

 

Dua ayat ini merupakan penjelasan lanjut tentang gambaran kengerian neraka, yang akan dialami oleh seluruh penghuninya. Saking panasnya api neraka yang sangat membakar, semua penghuni sangat membutuhkan air untuk menghilangkan dahaga. Ternyata yang disiapkan oleh Allah swt di dalam neraka adalah minuman yang mendidih, atau nanah yang baunya busuk menyengat. Makanan yang disiapkan pun tidak menghilangkan lapar:  "Sesungguhnya Pohon Zaqqum itu makanan orang yang banyak Berdosa. Yaitu kotoran minyak yang mendidih di dalam perut, Seperti mendidihnya air yang amat panas”. (Ad-Dukhan: 43–46). 

 

Semua kengerian dan siksa neraka tersebut, merupakan balasan yang sangat setimpal atas perbuatan jahat dan maksiat manusia.

 

 

إِنَّهُمۡ كَانُوا۟ لَا یَرۡجُونَ حِسَابࣰا ۝  وَكَذَّبُوا۟ بِـَٔایَـٰتِنَا كِذَّابࣰا
"Sesungguhnya dahulu mereka tidak pernah mengharapkan perhitungan (hisab). Dan mereka benar-benar mendustakan ayat-ayat Kami". (An-Naba': 27-28)

 

Dua perilaku yang menjadi penyebab masuk neraka jahanam, yang disebut di dua ayat ini adalah mengingkari adanya hisab, dan mendustakan ayat-ayat Allah swt.

 

Hisab itu proses penghitungan amal dalam bentuk pengadilan, sebagai bentuk pertanggungan jawab di hari kiamat. Jika seseorang dihisab oleh Allah swt, tidak akan dapat selamat dari azab, karena detail dan lengkapnya semua catatan amal perbuatan. Karenanya Rasulullah saw mengajarkan do'a memohon dimudahkan saat dihisab kelak: "Ya Allah, hisablah hamba dengan hisab yang mudah". (HR. Ahmad)

 

Hisab yang mudah itu: “Allah memperlihatkan kitab (hamba)Nya kemudian Allah memaafkannya begitu saja. Barangsiapa yang dipersulit hisabnya, niscaya ia akan binasa.” (HR. Ahmad dan Al-Hakim). Sedang mendustakan ayat-ayat Allah, berarti tidak meyakini semua petunjuk dan ketetapan Allah swt, termasuk yaumul hisab. Padahal ayat-ayat Allah bertujuan menuntun manusia, agar selamat dari dahsyatnya pengadilan Allah swt, di hari kiamat kelak.

 

وَكُلَّ شَیۡءٍ أَحۡصَیۡنَـٰهُ كِتَـٰبࣰا ۝  فَذُوقُوا۟ فَلَن نَّزِیدَكُمۡ إِلَّا عَذَابًا

"Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu Kitab (buku catatan amal manusia). Maka rasakanlah! tidak ada yang Kami tambah kepadamu selain azab". (An-Naba': 29-30)

 

Salah satu pemberat pengadilan di hari kiamat kelak adalah semua telah tercatat lengkap, rinci, dan menyeluruh, tanpa ada yang terabaikan. Sulit bagi siapapun mengelak atau membantah semua apa yang pernah diperbuatnya, karena tercatat semua, dan tersimpan di lauh mahfudz.


Di Surat Al-Kahfi: 49 digambarkan sikap dan keadaan orang yang berdosa, saat menerima catatan amal; "Dan diletakkanlah kitab catatan amal, lalu engkau akan melihat orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, “Betapa celaka kami, kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal, yang kecil dan yang besar melainkan tercatat semuanya,”.

 

Setelah proses hisab dan pengadilan berakhir, maka masing-masing akan ditempatkan di dua tempat; surga atau neraka. Saat akan memasuki neraka, ucapan yang didengarnya adalah 'Rasakanlah! Tidak ada yang Kami tambah selain azab'. Ucapan tersebut sekaligus perintah Allah swt, agar calon penghuni neraka segera memasuki neraka, dan tidak akan dapat keluar, atau berehat dari azab sesaatpun.

 

(Bersambung)

Facebook Comments

0 Komentar

TULIS KOMENTAR

Alamat email anda aman dan tidak akan dipublikasikan.