[Seri Tadabbur] Surat An-Naba 8-16

Keterangan Gambar : Pixabay


Oleh : Dr. Atabik Luthfi Lc., MA.


وَخَلَقۡنَـٰكُمۡ أَزۡوَ ٰ⁠جࣰا ۝  وَجَعَلۡنَا نَوۡمَكُمۡ سُبَاتࣰا

"Dan Kami menciptakan kamu berpasang-pasangan, 
dan Kami menjadikan tidurmu untuk istirahat". (An-Naba': 8-9)

 

Salah satu dari sunnatullah, dalam arti ketetapan dan ketentuan Allah swt dalam penciptaanNya, semua diciptakan berpasang-pasangan. Umumnya para ulama tafsir memahami berpasang-pasangan, dalam arti dua jenis kelamin; laki-laki dan perempuan. Berpasang-pasangan seperti ini merupakan sarana untuk berkembang dan berketurunan, sehingga terjadi kesinambungan dan kelanjutan kehidupan. Imam As-Sa'di menuturkan, berpasangan laki dan perempuan dalam ikatan pernikahan, akan melahirkan sakinah dan menghadirkan saling cinta dan kasih sayang.

 

Ayat selanjutnya berbicara tentang kebutuhan hidup manusia, yang sudah menjadi fithrah, yaitu kebutuhan akan rehat dari penat dan lelah kehidupan. Beragam cara untuk merehatkan diri, diantara cara berehat yang berkualitas, yang akan menimbulkan kesegaran  dan semangat adalah tidur. Karenanya, Allah swt menjadikan tidur sebagai karunia nikmat untuk berehat, dan memenuhi hak tubuh, setelah penat dan lelah menjalani beragam aktifitas hidup.

 

Subhanallah, demikian karunia Allah yang tiada terhingga di dua ayat ini; nikmat berpasang-pasangan dan nikmat tidur dalam kehidupan.

 

وَجَعَلۡنَا ٱلَّیۡلَ لِبَاسࣰا ۝  وَجَعَلۡنَا ٱلنَّهَارَ مَعَاشࣰا

"Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian, dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan". (An-Naba': 10-11)

 

Allah swt menyebut fungsi dua waktu yang sering disebut di dalam Al-Qur'an dan hadits, yaitu waktu malam dan siang. Bahasa yang digunakan di ayat ini, malam berfungsi sebagai pakaian, menutup dan melindungi diri dari kepenatan kerja, sepanjang hari. Sedang siang hari diciptakan oleh Allah swt, sebagai waktu untuk bekerja, mencari rezeki dan beberapa sarana kehidupan. 

Imam Ibnu Katsir menyimpulkan, malam dengan kegelapan dan ketenangannya, dijadikan waktu yang tepat untuk berehat. Sedang siang dengan keadaan terang benderang, dijadikan waktu untuk bekerja dan berusaha menjalankan berbagai aktifitas kehidupan. Dua waktu inilah yang paling diperhatikan oleh manusia, karenanya Al-Qur'an banyak menyebut keduanya, baik dalam konteks ibadah maupun aktifitas umum lainnya.

 

وَبَنَیۡنَا فَوۡقَكُمۡ سَبۡعࣰا شِدَادࣰا ۝  وَجَعَلۡنَا سِرَاجࣰا وَهَّاجࣰا

"Dan Kami membangun di atas kamu tujuh (langit) yang kokoh, dan Kami menjadikan pelita yang terang-benderang (matahari)". (An-Naba': 12-13)

 

Dua ayat ini menampilkan sisi lain dari nikmat Allah swt, yang juga menjadi bukti akan kekuasaanNya. Imam As-Sa'di menggabungkan kedua ayat ini, dalam arti adanya matahari yang terang benderang, merupakan salah satu dari manfaat penciptaan langit. Tujuh lapis langit yang kokoh dipahami oleh para mufassir, sebagai atap bumi yang akan mempengaruhi keadaan makhluk bumi. Demikian keadaan matahari yang sangat terang sinarnya, menambah kebaikan dan kemakmuran lain dalam kehidupan makhluk di muka bumi.

 

Kokohnya langit sebagai atap bumi, dan sinar matahari yang selalu menyinari, tidak dipungkiri menjadi ayat kauniyah yang akan menambah iman, bagi yang mau memperhatikan dan memikirkannya. Insyaa Allah

 

 

وَأَنزَلۡنَا مِنَ ٱلۡمُعۡصِرَ ٰ⁠تِ مَاۤءࣰ ثَجَّاجࣰا ۝  لِّنُخۡرِجَ بِهِۦ حَبࣰّا وَنَبَاتࣰا ۝  وَجَنَّـٰتٍ أَلۡفَافًا

"Dan Kami turunkan dari awan, air hujan yang tercurah dengan hebatnya, untuk Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tanam-tanaman, 
dan kebun-kebun yang rindang". (An-Naba': 14-16)

 

Karunia Allah swt yang tiada terhingga, untuk kehidupan semua makhluk di ayat ini, adalah turunnya hujan. Berkat hujan yang turun, maka tanah menjadi subur, dan karenanya tumbuh berbagai tumbuhan untuk kebutuhan hidup yang beragam. Hujan pula menjadi kebutuhan primer, untuk keberlangsungan hidup semua makhluk. 

 

Allah swt berfirman yang artinya: "Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air". (Al-Anbiya': 30)

 

Nikmat agung ini merupakan nikmat terakhir yang disebut di surat An-Naba', menutup nikmat-nikmat sebelumnya. Pembahasan setelah ini tentang kiamat, serta peristiwa dan keadaannya, bahkan nikmat dan azabnya.

Facebook Comments

0 Komentar

TULIS KOMENTAR

Alamat email anda aman dan tidak akan dipublikasikan.