Ustz Dr. Saiful Bahri, Lc. MA. : ABU ZAR`IN DAN SUAMI TERBAIK

ABU ZAR`IN DAN SUAMI TERBAIK

oleh: Saiful Bahri

Suatu hari Aisyah bercerita kepada Rasulullah tentang sebelas perempuan yang mengisahkan suami-suami mereka. Perempuan pertama hingga kesepuluh berkisah tentang kebaikan-kebaikan suaminya. Hingga akhirnya perempuan kesebelas bercerita tentang suaminya yang dipanggil dengan Abu Zar’in. Ini adalah tentang cerita suami terbaik yang didengar Aisyah. Ia memuliakan istrinya, ibunya, anak-anak perempuannya, anak lelakinya bahkan sampai budak-budaknya. Kebaikannya benar-benar baru dirasakan oleh Ummu Zar’in setelah ia bercerai darinya. Suami keduanya memang sangat baik, tapi Ummu Zar’in mengatakan, “Jika aku kumpulkan semua yang diberikan suami keduaku tersebut, tidak akan mencapai bejana terkecil Abu Zar’in”. Aisyah berkata; Rasulullah SAW bersabda, “Wahai Aisyah, bagimu aku seperti Abu Zar’in bagi Ummu Zar’in.” (HR Al-Bukhari 4790, dalam Fath al-Bariy 5189)

Rasulullah SAW adalah figur teladan seorang suami, sesibuk apapun ia bersabar mendengarkan cerita istri-istrinya. Ibnu Abbas ra meriwayatkan, “ Setiap kali Rasul SAW selesai shalat fajar beliau duduk di tempat shalatnya, dan orang-orang duduk mengelilingi beliau hingga matahari terbit. Kemudian beliau mendatangi istri-istri beliau satu per satu, menyapa mereka dan dan berdoa untuk mereka. Kemudian beliau akan tinggal di rumah istri yang mendapat giliran pada hari itu (HR. Ath-Thabraniy dalam al-Mu’jam al-Ausath)

Ramadan takkan lama lagi akan menyambangi setiap keluarga muslim. Di ayat 187 dalam Surah al-Baqarah Allah memberikan permisalan suami istri dengan kiasan sebagai pakaian

(هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ ۗ)

… mereka (istri-istri) adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.

Jika hari ini para suami sekaligus ayah sedang mendapatkan tren WFH (Work from Home) dan anak-anak dengan istilah home learning, maka setiap keluarga muslim seharusnya juga memiliki program dan planning terkait harmonisasi dengan pasangan hidupnya.

Dengan hampir full day di rumah, seseorang bukan sekedar bekerja dari rumah, tapi ia bisa membantu pekerjaan rumah yang biasanya dikerjakan istrinya. Dalam keseharian pun biasanya yang lebih sering menemani anak-anak belajar termasuk mengambil rapot di sekolah juga dikerjakan istrinya. Kini dengan hadirnya sang ayah dan sang suami, ia bisa menjadi Abu Zar’in bagi istri dan anak-anaknya. Rasulullah SAW sampai mengagumi figurnya.

Peganglah telinga istrimu, sekalipun engkau belum mampu membelikan perhiasan seperti Abu Zar’in. Usaplah kepalanya setiap pagi, doakanlah ia seperti halnya yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Peluklah ia dari belakang saat sedang mencuci piring, kemudian bantulah merapikan mainan anak-anak dan sesekali menyapu dan membersihkan ruangan, meskipun akan berantakan kembali.

Kesebelas perempuan yang menceritakan suami-suami mereka kepada Aisyah begitu bangga dengan mereka. Jadilah pakaian bagi pasangan hidupmu. Bukan sekedar menjadi penutup aurat yang memang itu kewajibannya, namun jadilah pakaian yang indah bak perhiasan yang dibanggakan oleh pasangan hidupnya.

Sambutlah Ramadan dengan seromantis dan seharmonis mungkin bersama pasanganmu.

Wahai Sang Mahacinta, karuniailah kami cinta-Mu dan cinta orang-orang yang mencintai-Mu, serta segala hal yang menghantarkan kami pada cinta-Mu. Berkahilah kami di bulan mulia, Ramadan-Mu. Allahumma Aamiin.

 

Rumah Cinta, Kalibata
Jakarta, 03.04.2020

sumber:

https://saifulelsaba.wordpress.com/2020/04/03/abu-zarin-dan-suami-terbaik/
 

Facebook Comments

0 Komentar

TULIS KOMENTAR

Alamat email anda aman dan tidak akan dipublikasikan.