Ustz Dr. Saiful Bahri, Lc. MA. : Jiwa Yang Tenang

Jiwa Yang Tenang

Saiful Bahri

Ketenangan adalah suatu hal yang mendatangkan suasana damai dan nyaman. Allah memberi resep agar hamba-Nya menjadi nyaman dengan janji-Nya yang tak pernah diselisihi; yaitu dengan terus mengingatnya berdzikir kepada-Nya. Dengan mengingatnya hati ini akan tenteram (Ar-ra’d ayat 28), jiwa pun tenang menjalani takdir-Nya. Dengan berdzikir, hamba-Nya akan terbantu untuk lebih fokus dalam menunaikan ibadah kepada-Nya (khusyu’) seperti dituturkan dalam Surah al-Hadid ayat 16.

Ketenteraman tersebut memudahkan seseorang terbiasa dengan kebaikan, ringan melakukannya, terbantu dalam menebarkan inspirasi kebaikan serta tidak khawatir terhadap apapun yang akan terjadi. Jika, hal ini terakumulasi itulah yang disebut dengan jiwa yang tenang, yang diistilahkan oleh al-Quran dengan an-nafsu al-muthmainnah. Pada dasarnya manusia berada di satu dari tiga jenis jiwa (nafs):

  1. An-Nafsu al-Ammārah, yaitu jiwa yang memerintah pada keburukan, mengajak untuk selalu memperturutkan hawa nafsu dan keinginan tanpa kontrol, serta merayu untuk bermaksiat kepada Allah (QS. Yusuf: 53). Ini jenis jiwa (nafs) yang paling buruk.
  2. An-Nafsu al-Lawwāmah, yaitu jiwa yang gundah, yang mencela diri, menyesal karena maksiat/keburukan yang dilakukan, namun enggan meninggalkannya atau berat untuk melakukan ketaatan (QS. Al-Qiyamah: 2). Ini jenis jiwa (nafs) yang paling banyak menjangkiti manusia
  3. An-Nafsu al-Muthma’innah, yaitu jiwa yang tenang, damai karena mengikuti petunjuk dan pedoman agama, serta hidup dalam bingkai cinta dan ketaatan kepada Allah SWT, dan akan kembali kepada-Nya dalam keadaan ridha dan diridhai (QS. Al-Fajr: 27). Ini termasuk jenis jiwa (nafs) yang tertinggi.

Jiwa yang tenang ini secara eksplisit disebutkan Allah di dalam al-Quran, di akhir Surah al-Fajr.

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ (27) ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً (28) فَادْخُلِي فِي عِبَادِي (29) وَادْخُلِي جَنَّتِي (30)

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku.” (Surah al-Fajr: 27-30).

Untuk menghasilkan jiwa yang tenang perlu dilakukan latihan-latihan, sehingga jiwa ini terbiasa dalam ketaatan. Di antara hal yang menjadi karakter jiwa yang tenang adalah:

  1. Kesatuan antara kata dan perbuatan.
  2. Sederhana dan memiliki kepekaan terhadap lingkungan di sekitarnya (basâthah).
  3. Fitrah mencintai ketaatan dan kebaikan yang dipertahankan.
  4. Tawadhu’ dan selalu tawakkal kepada Allah, sebagai ciri memiliki hubungan yang kuat dengan-Nya.
  5. Ridho dengan takdir Allah sebagai refleksi ketaatan dan kepasrahan kepada-Nya.
  6. Optimis dan tidak takut kepada selain Allah (khauf wa rajâ’).
  7. Tidak dengki atau iri dengan kondisi orang lain dan nikmat yang diberikan kepadanya (qanâ’ah)
  8. Berorientasi pada pembekalan dan persiapan diri untuk kehidupan akhirat.

 

Quote:

“Ketenteraman jiwa yang tenang memudahkan seseorang terbiasa dengan kebaikan, ringan melakukannya, terbantu dalam menebarkan inspirasi kebaikan serta tidak khawatir terhadap apapun yang akan terjadi”

Dr. Saiful Bahri

 

 

 

Facebook Comments

0 Komentar

TULIS KOMENTAR

Alamat email anda aman dan tidak akan dipublikasikan.