[Tadabbur Ramadhan] Shaum atau Shiyam?

Keterangan Gambar : pixabay


Oleh: Dr. Atabik Luthfi MA

 


یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَیۡكُمُ ٱلصِّیَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ

"Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa". (Al-Baqarah: 183)

Ayat inti puasa ini mengandung banyak catatan tafsir; siapa yang diperintahkan, apa yang diperintahkan, bagaimana umat terdahulu, dan apa tujuan perintah tersebut. Perintah puasa disebut dengan kata shiyam, bukan shaum. Meskipun keduanya diartikan sama, namun pada hakikatnya kedua kata tersebut memiliki perbedaan menurut ahli bahasa.


Makna shiyam lebih dalam dan lebih lengkap dari makna shaum. Shiyam bicara tentang nilai puasa, sedang shaum bicara tentang fiqih puasa, sah atau tidak sah. Sah shaum seseorang jika memenuhi ketentuan fiqih; tidak makan dan minum, serta tidak melakukan semua perkara yang membatalkan puasa.


Sedang nilai shiyam, tergantung menjaga lisannya, penglihatan, dan pendengarannya, serta semua ucapan dan perilaku yang tidak terpuji. Termasuk bagaimana mengisi Ramadhan dengan memperbanyak ibadah dan amal shalih, sehingga nilai puasanya tidak sekedar menahan lapar dan dahaga.

 

Rasulullah saw pun mengingatkan nilai shiyam: "Betapa banyak orang berpuasa, tidak mendapat apa-apa dari puasanya, kecuali lapar dan dahaga". (HR. Bukhari).


Di sinilah hakikat dari shiyam yang diperintahkan oleh Allah swt, dan diingatkan oleh Rasulullah saw. Apakah kita sudah shiyam atau masih sekadar shaum?

Facebook Comments

0 Komentar

TULIS KOMENTAR

Alamat email anda aman dan tidak akan dipublikasikan.